Nampaknya aksi boikot produk Coca Cola yang dikumandangkan selama ini kelihatannya tidak efektif.Soalnya aksi boikot yang didasari karena keprihatinan atas apa yang terjadi di Palestina ini justru sebaliknya.Para penduduk Palestina khususnya di jalur Gaza malah dengan asyik mengkomsumsi produk ini.Apalagi disaat bulan Ramadhan ini yang merupakan barang favorit yang paling banyak diselundupkan ke daerah ini. Nggak realitas kan….
Jalur Gaza sudah tiga tahun ini diblokade dengan ketat oleh Israel. Negara Zionis itu hanya memberi izin barang-barang kebutuhan pokok dan obat-obatan yang bisa masuk wilayah Jalur Gaza. Tapi warga Gaza, seperti wilayah muslim manapun di seluruh dunia, memiliki tradisi makan yang cukup spesial di Bulan Puasa. Makanan ini tidak akan dicukupkan hanya dengan bahan makanan pokok yang bisa melewati perbatasan Israel.
Salah satu favorit warga Gaza selama Ramadan adalah Coca-Cola. Mungkin ini mirip dengan kebiasaan keluarga Indonesia mengkonsumsi sirup selama Ramadan dan kemudian Idul Fitri.
Untuk menikmati Coca-Cola ini para warga Gaza terpaksa mengandalkan para penyelundup yang membuat terowongan di bawah perbatasan Mesir-Gaza.
Jihad, salah satu bos penyelundup, mengatakan jumlah minuman soda (terutama Coca-Cola) yang ia masukkan berlipat dua selama Ramadan. Saat ini ia setiap hari memasukkan 100 ribu kaleng Coca-Cola. Jumlah ini kira-kira dua kali lipat jumlah yang ia masukkan di hari-hari biasa.
Selain Coca-Cola, makanan keperluan Bulan Puasa lain yang juga banyak diminati warga Gaza–dan harus diselundupkan untuk masuk–adalah cokelat atau permen.
Para penyelundup juga memasukan sepatu, pakaian, dan mainan karena, sesuai tradisi, warga akan berpakaian baru saat Lebaran. Tanpa ada penyelundup, Ramadan dan Lebaran dalam blokade Israel bakal jauh lebih muram.
Salah satu favorit warga Gaza selama Ramadan adalah Coca-Cola. Mungkin ini mirip dengan kebiasaan keluarga Indonesia mengkonsumsi sirup selama Ramadan dan kemudian Idul Fitri.
Untuk menikmati Coca-Cola ini para warga Gaza terpaksa mengandalkan para penyelundup yang membuat terowongan di bawah perbatasan Mesir-Gaza.
Jihad, salah satu bos penyelundup, mengatakan jumlah minuman soda (terutama Coca-Cola) yang ia masukkan berlipat dua selama Ramadan. Saat ini ia setiap hari memasukkan 100 ribu kaleng Coca-Cola. Jumlah ini kira-kira dua kali lipat jumlah yang ia masukkan di hari-hari biasa.
Selain Coca-Cola, makanan keperluan Bulan Puasa lain yang juga banyak diminati warga Gaza–dan harus diselundupkan untuk masuk–adalah cokelat atau permen.
Para penyelundup juga memasukan sepatu, pakaian, dan mainan karena, sesuai tradisi, warga akan berpakaian baru saat Lebaran. Tanpa ada penyelundup, Ramadan dan Lebaran dalam blokade Israel bakal jauh lebih muram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar